Berita

Petugas Layanan Harus Paham dalam Menangani Trauma, Ini Sebabnya

Pangkalpinang - Setiap bentuk kekerasan terhadap anak harus menjadi perhatian. Pasalnya kekerasan bukan hanya dapat menimbulkan luka secara fisik, tetapi juga bisa meninggalkan dampak psikologis mendalam. 

Rudi Zulfiarrosandi, SE., Sekretaris dinas mewakili Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan, trauma dapat terbawa sampai anak tumbuh dewasa jika tidak mendapatkan pendampingan yang tepat.

"Kita tidak boleh hanya fokus pada penanganan terhadap korban," kata Rudi saat membuka kegiatan Pelatihan Trauma Healing dan Manajemen Stres untuk Petugas Layanan Korban Kekerasan Terhadap Anak Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di Hotel Soll Marina, Kamis (3/8/2026).

Menurut Rudi, selain penanganan korban juga harus memastikan orang yang berada di garis depan dalam memberikan pelayanan dan pendampingan memiliki pengetahuan, keterampilan dan kesiapan psikologis yang memadai. 

Kegiatan ini, jelas Rudi, merupakan upaya untuk meningkatkan kapasitas SDM yang berkaitan langsung dengan langkah pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak.

Kemampuan melakukan trauma healing, menurut Rudi, tidak hanya diperlukan untuk membantu korban, tetapi juga untuk memastikan para pendamping mampu memberikan pelayanan secara tepat, empatik dan profesional.

"Kita perlu memahami stres merupakan bagian dari kehidupan dan pekerjaan. Sebab stres yang tidak dikelola dengan baik dapat mempengaruhi kesehatan, konsentrasi hingga hubungan dengan orang lain," ungkapnya. 

Sebanyak tiga pemateri mengisi kegiatan ini di antaranya, Desta Israwanda, M.Psi menyampaikan materi tentang Assesment dan Diagnosis, Teknik Stabilisasi dan Trauma Informed Care.

Adapun pemateri kedua, dr. Feilin Tanita, Sp.KJ dengan materi Trauma Care, Safety and Self Care.  Sedangkan Didik Seriawan, SH., MH dari LPKA kelas II Pangkalpinang menyampaikan materi tentang Praktik Baik Trauma Healing.

Sumber: 
DP3ACSKB
Penulis: 
Humas DP3ACSKB
Bidang Informasi: 
DP3ACSKB