Pangkalpinang - Media menjadi akses masyarakat untuk mengetahui informasi yang terjadi ditengah tengah masyarakat. secara langsung maupun tidak, media turut serta membentuk perilaku baik maupun buruk terhadap masyarakat. pemerintah berkepentingan terhadap media untuk menginformasikan program programnya serta menerima informasi dari media.oleh karena itu sinergi antara media dan pemerintah menjadi sangat penting dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Riset Kompas terhadap konten di 10 media cetak edisi januari 2015 menemukan banyak media mengabaikan kode etik dalam pemberitaan tentang kekerasan seksual terhadap perempuan. Pelanggaran kode etik itu meliputi mengungkap identitas korban, mencampuradukkan fakta dan opini, mengungkap identitas pelaku yang masih dibawah umur serta menerbitkan pemberitaan yang mengandung informasi cabul dan sadistis.
Jurnalisme sensitif gender memberi porsi lebih besar pada pemberitaan persoalan persoalan perempuan dan memberi ruang yang memadai bagi perempuan. Dalam pemberitaan persoalan gender, jurnalis harus sensitif gender, menghindari sikap diskriminatif, baik dalam pemilihan kata atau diksi maupun angle atau framing pemberitaan. Dalam konteks diksi misalnya jurnalis tidak menggunakan istilah diskriminatif seperti misalnya perempuan sebagai kaum yang lemah, tidak rasional, emosional dan sebagainya. Jurnasime responsif gender semestinya memberi porsi lebih dalam memberitakan sosok sosok perempuan yang berhasil di dalam berbagai segi kehidupan dan profesi bukan melulu mengangkat peran domestik perempuan.
Ada 3 kondisi yang harus ada menuju jurnalis yang responsif gender:
- Membangun dan mengembangkan kesadaran gender - Pers perlu membangun dan ,mengembangkan kesadaran gender baik bersifat individual maupun kolektif di berbagai tingkatan redaksional. Kesadaran gender dikalangan wartawan akan melahirkan visi dan orientasi kebijakan redaksional yang punya perspektif gender. Sementara kesadaran di tingkat individual wartawan baik laki laki maupun perempuan akan melahirkan karya karya reportase yang berperspektif gender.
- Redaksi berkeadilan gender - Dalam praktik organisasi kerja redaksional, perlu tata struktural yang mencerminkan keadilan gender . struktur organisasi kerja redaksional harus dibangun dengan tidak bias laki-laki. Struktur organisasi kerja harus memberi ruang dan peluang untuk menduduki posisi dan peran strategis. Begitu juga komposisi wartawan perempuan dan laki-laki harus mencerminkan keseimbangan yang relatif proporsional sehingga tidak mencerminkan dominasi yang berlebihan dari salah satu jenis kelamin tertentu.
- Pengembangan Profesionalisme Sensitif gender - Pada tingkat teknik jurnalistik, perlu adanya pengembangan kemampuan profesional wartawan dalam melihat dan menulis problematik gender
Seandainya jurnalistik sudah mendekati perspektif gender maka akan ada isu isu yang layak diangkat agar lebih peduli terhadap permasalahan gender seperti masalah marginalisasi perempuan, kekerasan terhadap perempuan, subordinasi perempuan, beban kerja perempuan yang berlebihan, stereotipi dan pemberdayaan perempuan. (Faiz)
- 278 reads

