Berita

Ada apa dengan pernikahan dini?

Pangkalpinang - Remaja (umur 10-24) saat ini sedang mengalami perubahan sosial yang cepat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern. Perubahan ini juga mengubah norma-norma, nilai-nilai dan gaya hidup mereka.  Remaja yang dahulu terjaga secara kuat oleh sistem keluarga, adat budaya serta nilai-nilai tradisional yang ada, telah mengalami pengikisan yang disebabkan oleh industrialisasi dan perubahan teknologi. Hal ini terjadi karena adanya revolusi media yang terbuka yang berdampak bagi keragaman gaya hidup. Teknologi komunikasi cenderung sulit dikendalikan mengakibatkan ditirunya hal-hal positif maupun negatif. Masalahnya adalah akses inetrnet dan media sosial yang tergolong negatif itu juga dimanfaatkan oleh anak-anak. Remaja adalah sekelompok usia dimana mereka sedang mencari jati diri, dan mencari figur yang akan ditiru untuk dijadikan panutan. Maka sekali mereka memperoleh figur dan panutan yang salah maka akan berdampak pada perilakunya yang juga salah.

Remaja juga merupakan masa dimana mereka penuh dengan rasa keingintahuan yang besar. Di usia ini, terkadang larangan dan hal hal tabu yang tidak boleh dilakukan justru akan membuatnya semakin penasaran. Pelajaran negatif yang diperoleh di dunia maya dan terlihat oleh teman sebaya, mengakibatkan peningkatan kerentanan remaja terhadap berbagai macam perilaku dan  penyakit, terutama yang berhubungan dengan kesehatan seksual dan reproduksi. Remaja Indonesia dewasa ini nampak lebih bertoleransi terhadap gaya hidup seksual pranikah. Saat ini Jumlah remaja-mahasiswa kurang lebih ± 64 Juta (27,6%  dari jumlah penduduk). Dengan jumlah tersebut maka masa depan negara dipertaruhkan jika kita mengabaikan perilaku dan pola hidup remaja. Karena itu kita harus konsen terhadap masalah-masalah yang dihadapi remaja. Caranya dengan mengurangi resiko agar remaja tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas dan menuju kepada kehidupan lebih sehat. Secara umum perilaku remaja tidak sehat adalah: pertama, pada keluarga yang kurang intim, sehingga anak cenderung kurang bersahabat dengan orang tua. Yang terjadi adalah remaja mencari informasi dan keputusan sendiri sendiri dalam menghadapi masalahnya yang sering kali memperoleh informasi yang salah. Kedua adalah di sekolah dengan tugas tugas yang semakin banyak dan menumpuk sehingga remaja kurang dalam waktu refresing dan stres pada remaja meningkat. Akibatnya remaja cenderung mencari pola refresing yang instan melalui internet dan medsos. Ketiga di masyarakat kita yang cenderung individualistik, sehingga tidak perduli lagi terhadap yang terjadi disekitarnya. Akibatnya adalah berkurangnya fungsi kontrol di masyarakat yang berdampak semakin bebasnya remaja dalam bersikap dan berprilaku.  Yang ke-empat adalah peran media yang permisif dimana media lebih banyak mengejar keuntungan dan bisnis dibanding mendidik masyarakat. berbagai cara ditempuh untuk menaikan keuntungan dan berpihak kepada pasar sehingga kurang memperdulikan nilai-nilai, etika dan moral yang korbanya adalah para remaja yang mesih mencari jati diri. Tak kalah penting yang terakhir adalah peran teman sebaya dimana pergaulan semakin liberal. Kebebasanlah yang dicari dan dianggap benar, sehingga remaja dalam mengekspresikan kebebasanya cenderung beresiko untuk berprilaku tidak sehat.

Data penelitian  ANU & UI (2010) di JATABEK menyatakan bahwa pada usia <17 – 24 tahun terdapat  20,9% remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah dan 38,7% remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah. Kasus AIDS kumulatif s/d Juni 2011 sebesar 26.483 kasus dan 45,9% diantaranya adalah kelompok usia 20 – 29 tahun (Kemenkes RI, 2011). Penelitian yang dilakukan oleh Undip selama kurun waktu tahun 2010-2015, menemukan bahwa lima sampai sepuluh persen wanita dan delapan belas sampai tiga puluh delapan persen pria muda berusia 16-24 tahun telah melakukan hubungan seksual pranikah dengan pasangan yang seusia mereka 3-5. Penelitian-penelitian lain di Indonesia juga memperkuat gambaran adanya peningkatan risiko pada perilaku seksual kaum remaja. Temuan-temuan tersebut mengindikasikan bahwa 5%-10% pria muda usia 15-24 tahun yang tidak/belum menikah, telah melakukan aktifitas seksual yang berisiko 6-9. Selanjutnya hasil dari penelitian mengenai kebutuhan akan layanan kesehatan reproduksi di 12 kota di Indonesia pada menunjukkan bahwa pemahaman mereka akan seksualitas sangat terbatas. Temuan dari berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan aktifitas seksual dikalangan kaum remaja, tidak diiringi dengan peningkatan pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi termasuk HIV/AIDS, penyakit menular seksual (PMS) dan alat-alat kontrasepsi. Dari latang belakanga mengapa remaja melakukan seks bebas dapat diketahui bahwa latang belakangnya adalah:pertama remaja memiliki pacar, kita harus hati hati terhadap kalimat pacaran. Pacaran meningkatkan resiko untuk menjurus ke hal hal yang seharusnya tidak dilakukan. Kedua adalah pengaruh teman sebaya yang setuju dengan hubungan seks sebelum menikah dan ketiga adalah teman sebaya yang sebelumnya pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah sehingga sencerung mengajak untuk melakukan hubungan seks bebas. Perilaku yang tidak sehat pada remaja (seks bebas) dapat mengganggu 5 transisi kehidupan remaja yang seharusnya bisa dilalui dengan baik yaitu:1)Melanjutkan Sekolah, 2) Mencari Pekerjaan, 3) Memulai Kehidupan Berkeluarga, 4)Menjadi Anggota Masyarakat  dan 5)Mempraktekan Hidup Sehat. Jika remaja gagal dalam melakukan 5 transisi kehidupan ini maka kehidupan dan masa depannya akan terganggu dan terancam berkehidupan yang suram.mereka terancam oleh apa yang disebut  TRIAD KRR (Tiga ancaman Kesehatan Reproduksi Remaja) yaitu: Seksualitas, Napza, serta HIV dan AIDS. Mengingat jumlah remaja yang begitu besar maka semakin banyak remaja yang gagal dalam melakukan transisi kehidupan akan dapat mengancam masa depan bangsa. Maka apa yang dilakukan oleh BKKBN dengan program Genre (Generasi berencana ) sangat tepat. Karena program ini dilakukan dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja/mahasiswa sehingga mereka mampu melangsungkan, jenjang pendidikan secara terencana, berkarir dalam pekerjaan secara terencana, serta menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksi. (Faiz)

Sumber: 
-
Penulis: 
Faiz Marzuki
Fotografer: 
-
Editor: 
Dolly/Yan